Showing posts with label Teknik. Show all posts
Showing posts with label Teknik. Show all posts

Sunday, 10 May 2015

Rumus Menghitung Rangkian Seri Dan Pararel Pada Hambatan

Rumus Perhitungan Resistor - Jika anda ingin membuat rangkaian elektronika karya sendiri ,maka anda perlu bisa dan  mengetauhi bagaimana cara menghitung hambatan /resistornya,sebab semua komponen elektronika membutuhkan tegangan kerja yang tepat.Untuk itulah yang perlu diatur bagaimana menyusun dan menentukan nilai resistor

Setiap komponen elektronika memiliki hambatan ,meskipun komponen tersebut bukanlah resistor pada umumnya,sebagai contohnya adalah lampu.Didalam lampu sendiri juga memiliki hambatan namun nilainya kecil atau bisa diabaikan umumnya,hambatan ini biasa disebut hambatan internal 

Karena perbedaan itulah maka nilai tegangan kerja bisa berbeda beda,sedangkan nilai Resistor yang diproduksi oleh Produsen Resistor (Perusahaan Produksi Resistor) sangat terbatas dan mengikuti Standard Nilai Standar Resistor. sehingga kita hanya menemui sekitar 168 jenis nilai resistor dipasaran. Berikut ini adalah tabel yang dimasuksudkan.Jika demikaian kita perlu bisa menghitung nilai resistor setidaknya mendekati nilai yang dibutuhkan,sehingga bisa mengkombinasikan resistor yang ada

Terlihat dibawah ini tabel nilai resistor standart yang tersedia dipasaran

Tabel Resistor Standart

Lantas bagaimana kalau nilai Resistor yang kita inginkan tidak tersedia di pasaran? Contohnya 450 Kilo Ohm, 220 Ohm, ataupun 6.4 Ohm. Nilai-nilai Resistor tersebut tidak kita temukan dalam daftar Standard nilai Resistor sehingga kita tidak mungkin akan menemukan Resistor dengan nilai nilai tersebut di Pasaran. Untuk mengatasi hal ini perlu melakukan perhitungan baik rumus menggunakan Rangkaian Seri ataupun Rangkaian Paralel Resistor sehingga kita dapati Nilai Resistor yang kita inginkan,atau setidaknya mendekati.

Untuk mendaptkan nilai yang mendekati kita perlu merangkai dengan beberapa cara berikut

A.Rangkaian Seri Resistor,
Susunan rangkian resistor ini adalah dengan menyususun 2 resistor atau lebih secara seri atau sejajar,bagian belakang setiap resistor disambung dengan bagian depan resistor lainya. untuk lebih jelasnya perhatikan gambar di bawah ini
Maka secara metematis untuk menentukan Nilai Rtotal adalah
Rtotal = R1+R2+...Rn

 B.Rangkaian Pararel Resistor,
Susunan rangkian resistor ini adalah dengan menyususn 2 resistor atau lebih secara berderet atau pararel,bagian depan setiap resistor dengan bagian depan resistor lainya,atau dengan kata lain disusun dengan posisi yang sama, untuk lebih jelasnya perhatikan gambar di bawah ini

Maka secara metematis untuk menentukan Nilai Rtotal adalah
Rtotal = 1/(1/R1+1/R2+...1/Rn)
Jika Rangkian pararel tersebut hanya terdiri dari 2 resistor ,anda bisa menggunkan rumus termudah di bawah ini
Rtotal = R1 x R2 / R1 + R2

Contoh Soal 
Pertanyaan
Diketauhi sebuah rangkian terdiri diri 2 resistor yang disusun secara pararel,resistor pertama bernilai 100 Ohm,dan Resistor kedua bernilai 200 Ohm,Berapa nilai Rtotal rangkian tersebut ?

Jawaban
R1 = 100 Ohm
R2 = 200 Ohm
Perhitungan 1
Rtotal = 1/(1/R1+1/R2)
Rtotal = 1/(1/100 + 1/200)
Rtotal = 1/(2/200 + 1/200)
Rtotal = 1/(3/200)
Rtotal = 200 / 3
Rotal = 66.66
Perhitungan 2 (Rumus ini berlaku hanya bila 2 resistor yang dipararel)
Rtotal = R1x R2 / R1 + R2
Rtotal = 100 x 200 /100 + 200
Rtotal = 20000 / 300
Rotal = 66.66

Kesimpulan 
Nilai Resistor (Ohm) akan bertambah jika menggunakan Rangkaian Seri sedangkan Nilai Resistor (Ohm) akan berkurang jika menggunakan Rangkaian Paralel Resistor.

Saturday, 9 May 2015

Mengenal dan Prinsip Kerja SMPS (Switched-Mode Power Supply)

Mungkin sebagian besar dari kita (para pelajar/mahasiswa) belum tidak mengerti, ataupun belum pernah mendengar sama sekali apa itu smps. Yah, wajar,sebab di sekolah kita hanya diperkenalkan dengan Power Supply yang sederhana saja. Yaitu rangkaian dasar yang terdiri dari komponen umum seperti1 trafo, 4 dioda, dan 1 capasitor.

Jika dahulu bila kita ingin membuat power supply dangan daya besar maka kita juga membutuhkan Trafo yang berukuran besar pula,sehingga total fisik power suply menjadi besar dan berat.Pada SMPS,masalah itu tidak lagi terjadi sebab kita tidak memerlukan sebuah Trafo yang berukuran besar, namun kita cukup memakai 2 trafo ukuran kecil
Applikasi SMPS Teknologi
Saat ini Hampir semua power supply saat ini menggunakan SMPS, hal ini karena regulator switching mempunyai beberapa keuntungan jika dibanding dengan regulator linear
  1. Lebih ringan dan ukuran lebih kecil. Regulator linear membutuhkan trafo 50Hz yang mempunyai inti besi yang berat. Makin besar daya (Watt) makin besar dan berat ukuran tranfonya. Sedang SMPS menggunakan frekwensi diatas 20Khz. Makin tinggi frekwensi switching, maka ukuran tranfo dan kapasitor filter semakin kecil. 
  2. Lebih efisien pemakaian daya listrik. Regulator switching lebih sedikit menghasilkan panas, berarti lebih sedikit daya listrik yang hilang. 
  3. Range tegangan masukan yang lebih lebar. SMPS mempunyai toleransi range tegangan masukan yang lebar. Dengan tegangan masukan bervariasi antara dc 150~300V (atau tegangan ac antara 90~265V), switching regulator masih mampu memberikan tegangan keluaran yang stabil.
SMPS secara garis besar meliputi kerja
  • Penyerahan – merubah tegangan masukan AC menjadi tegangan keluaran DC. 
  • Konverter – merubah tegangan dc menjadi tegangan keluaran yang sesuai dengan kebutuhan 
  • Filtering – menghilangkan denyut (ripple) pada tegangan keluaran 
  • Regulasi – membuat agar besarnya tegangan keluaran stabil terhadap perubahan tegangan masukan dan perubahan beban. I
  • solasi – mengisolasi bagian sekunder dari bagian primer, dengan tujuan agar chasis bagian sekunder kalau dipegang tidak timbul bahaya kena sengatan listrik. 
  • Proteksi – mampu melindungi peralatan dari tegangan keluaran yang over dan melindungi power supply dari kerusakan jika terjadi suatu kesalahan.
Bagian-bagian pokok dasar kerja sebuah SMPS adalah sebagai berikut :
  • Bagian penyearah. Disini tegangan masukan dari listrik ac 220v disearahkan menjadi tegangan dc menggunakan diode bridge dan 3 buah elco filter besar yaitu sebuah elco 480V680UF dan 2 buah elco 250V2200UF. 
  • Bagian pencacah atau power-switching. Tegangan masukan dc dicacah dengan menggunakan “power switch on-off ” sehingga menghasilkan tegangan pulsa-pulsa dc dengan frekwensi tinggi. SMPS mesin las Inverter umumnya bekerja pada frekwensi sekitar 50Hz hingga 60Hz. Sebagai power switch dapat menggunakan IC K2611, IRFZ24N dan IRF9Z24N. 
  • SMPS Controller driver sebagai pembangkit pulsa PWM (Pulse Wave Modulation). Sebagai sinyal drive untuk pencacah digunakan IC PC 817 yang berisi rangkaian osilator dan PWM sebagai pembangkit pulsa-pulsa PWM. Ada rangkaian SMPS yang tidak menggunakan SMPS controller driver, dalam hal ini transistor power switching dibuat agar dapat bekerja dengan cara “ber-osilasi sendiri” 
  • Trafo switching. Tegangan dc yang telah dicacah mempunyai karakteristik seperti tegangan ac sehingga dapat dilewatkan sebuah trafo atau induktor untuk dinaikkan ataupun diturunkan tegangannya. Pada rangkaian ini menggunakan trafo E25 15:15 
  • Penyearahan dan filtering tegangan keluaran. Tegangan keluaran dari trafo masih berupa pulsa-pulsa frekwensi tinggi dan kemudian dirubah menjadi tegangan dc menggunakan diode penyearah dan filter elco. 
  • Loop umpan balik untuk membuat tegangan keluaran agar stabil. Sirkit loop umpan balik dari tegangan keluaran B+ ke bagian primer digunakan untuk mengendalikan PWM. 
  • Rangkaian komparator atau pembanding sebagai “error detektor”. Sebuah sirkit komparator pada bagian sekunder dipakai untuk mendeteksi jika terjadi perubahan tegangan keluaran B+. Komparator bekerja dengan cara membandingkan tegangan keluaran B+ dengan sebuah tegangan “referensi” (biasanya berupa tegangan diode zener 6.8v). Output komparator berupa arus yang kemudian diumpan balikkan ke bagian primer melalui sebuah photo coupler. Kopling menggunakan photocouler bertujuan untuk meng-isolagi ground bagian primer yang menyetrum jika dipegang (HOT chasis) dengan ground bagian sekunder (COLD chasis).

Thursday, 23 April 2015

Pengertian Dasar Listrik Secara teknik

Pengertian Dasar Listrik Secara teknik - Sebagai orang awam listrik biasanya diartikan sebagai sebuah energi yang bisa menjalankan peralatan elektronika,dengan listrik peralatan elektronika seperti TV,KULKAS,POMPA AIR,LAMPU dapat bekerja sebagai mana mestinya.Namun bagaimana pengertian LISTRIK secara bahasa teknis???dibwah ini penjelasan lengkpanya

Secara teknis listrik terjadi karena perpindahan/gerakan elektron dalam konduktor (Penghantar) atau ion positif dan negatif dalam zat cair atau gas dalam sebuah rangkian.seperti kita ketauhi bersama suatu zat terdiri dari beberapa atom,namun dalam atom sendiri terdapat inti atom dan elektron.

A.Muatan Listrik
Inti atom (nukleus) tardiri atas proton dan neutron. Nah, ternyata elektron tuh bergerak mengelilingi inti atom pada lintasannya dan mendapat gaya tarik inti atom. Inti atom bermuatan positif dan elektron bermuatan negatif. Muatan positif inti atom disumbangkan oleh proton, sedangkan neutron tidak bermuatan. Secara keseluruhan, atom tidak bermuatan alias netral karena muatan positif selalu sama dengan muatan negatif. Apa sih Pengertian Muatan Listrik? Muatan listrik, Q, adalah muatan dasar yang dimiliki suatu benda. Satuan Q adalah coulomb, yang merupakan 6.24 x 1018 muatan dasar. Q adalah sifat dasar yang dimiliki oleh materi baik itu berupa proton (muatan positif) maupun elektron (muatan negatif). Muatan listrik total suatu atom atau materi ini bisa positif, jika atomnya kekurangan elektron. Sementara atom yang kelebihan elektron akan bermuatan negatif. Besarnya muatan tergantung dari kelebihan atau kekurangan elektron ini, oleh karena itu muatan materi/atom merupakan kelipatan dari satuan Q dasar. Dalam atom yang netral, jumlah proton akan sama dengan jumlah elektron yang mengelilinginya (membentuk muatan total yang netral atau tak bermuatan). Teman..gaya ikat inti terhadap elektron antara satu dengan bahan yang lain itu berbeda lho..Kenapa bisa begitu ya? Ternyata, itu karena elektron dapat lepas dari lintasannya dan berpindah ke atom lain. Perpindahan elektron tersebut menyebabkan perubahan muatan suatu atom. Berdasarkan hal itu atom dapat berada dalam satu dari tiga keadaan, yaitu bermuatan negatif, bermuatan postif atau netral.

B.Beda Potensial (Tegangan)
Karena ada muatan yang bergerak, elektron-elektron ini dapat mengalir karena adanya beda potensial. Beda potensial adalah dorongan yang menyebabkan elektron-elektron itu mengalir dari satu tempat ketempat lain. Tegangan adalah kerja yang dilakukan untuk menggerakkan satu muatan (sebesar satu coulomb) pada elemen atau komponen dari satu terminal/kutub ke terminal/kutub lainnya, atau pada kedua terminal/kutub akan mempunyai beda potensial jika kita menggerakkan / memindahkan muatan sebesar satu coulomb dari satu terminal ke terminal lainnya.

C.Arus Listrik
Muatan yang bergerak disebut dengan arus. Apabila muatan tidak bergerak, arus pun akan hilang. Dengan kata lain, arus adalah muatan yang bergerak setiap satu satuan waktu.Aliran elektron dapat disimpulkan Arah aliran elektron dari potensial rendah (kutub - ) ke potensial tinggi ( kutub + ). Sedangkan arah arus listrik ( sesuai konvensi) dari potensial tinggi (kutub + ) ke potensial rendah (kutub -). Mengapa ada arus

  • karena ada percepatan yang dialami muatan 
  • karena ada gaya (F=ma)  
  • karena ada medan listrik  
  • beda potensial (E=V/d)  
  • beda muatan  
  • pemisahan muatan positif dengan muatan negatif 
  • Karena ada kerja yang memisahkan muatan



Sumber Arus Listrik

Sumber arus listrik adalah penghasil arus listrik. Sumber arus listrik ada 2 macam

1.Sumber Arus Listrik Searah (DC = Direct Current) 
Yaitu sumber arus listrik yang tidak berubah fasenya. Pada gambar grafik yang memperlihatkan hubungan antara tegangan ( V ) dan waktu ( t ) pada Arus Listrik searah ( DC ),contohnya baterai,accumuator,aki,elemenvolta,sel surya (solar cell),Dinamo DC atau Generator DC

2.Sumber Arus Listrik Bolak Balik (DC = Direct Current) 
Yaitu sumber arus listrik yang berubah-ubah fasenya setiap saat, jangka waktu tertentu mengalir ke satu arah,dan waktu yang lainnya kearah yang lain.Contohnya Generator AC,jala Jala PLN

Nah demikianlah artikel singkat Pengertian Dasar Listrik Secara teknik,semoga apa yang saya sajikan bisa memberi manfaat



Tuesday, 21 April 2015

Cara Mengukur Tegangan DC

Salah satu kemampuan yang harus dikuasai oleh para hobiist elektronika yaitu mengukur tegangan DC.Seberapa pentingkah sehingga harus dikuasai?jawabanya aadalah sangat penting.

Perlu sobat ketahui sebagian besar peralatan elektronika menggunakan tegangan DC Walaupun saat ini peralatan elektronika sudah terintegrasi dengan Power Suply yang mampu mengubah tegangan AC menjadi tegangan DC namun pada dasarnya yang dibutuhkan oleh rangakaian peralatan elektronika adalah tegangan DC.

Bekerja atau tidaknya suatu peralatan elektronika tergantung dari tegangan yang masuk keperalatan tersebut kalau tegangannya sesuai otomatis langsung bekerja Namun kalau tegangannya kurang atau lebih kemungkinan peralatan tidak bisa bekerja bahkan kalau tegangannya berlebihan bisa merusak komponen.Bagaimana sobat tahu kalau tegangannya sudah sesuai dengan kebutuhan rangkaian? Tentu dengan mengukur tegangan tersebut Bukan?Lalu bagaimana cara mengukur tegangan DC? Peralatan yang digunakan adalah Multimeter(Digital/Analog).

Penting juga buat sobat yang hendak melakukan pengukuran tegangan listrik baik itu AC atau pun DC untuk memahami cara menggunakan peralatan pengukur ( Multimeter ),berikut juga fungsi fungsinya .apa saja yang terdapat dalam peralatan pengukur harus dipahami secara baik,karena bisa menimbulkan potensi bahaya,seperti kesetrum,meledak dan lainya.


Pada multimeter memiliki berbagai bagian yang memiliki banyak fungsi untuk masing-masing bagiannya, berikut ini adalah pengertian multimeter yang dilihat dari fungsi bagian-bagian yang terdapat pada multimeter seperti ini contohnya:
  1. VA Terminal atau lubang kutub plus (+) yang memiliki fungsi sebagai tempat untuk masuknya test lead yang berarus plus (+) dan biasanya memiliki warna merah.
  2. Common Terminal atau lubang kutub negatif (-) yang memiliki fungsi sebagai tempat untuk masuknya test lead yang berarus negatif (-) dan biasanya memiliki warna hitam 
  3. Knife Edge Pointer atau biasa disebut sebagai jarum penunjuk meter, yang memiliki fungsi sebagai penunjuk suatu besaran yang ingin diukur,jika dalam multimeter hasil pengukuran akan ditampilkan dalam display
  4. Meter Cover atau bisa disebut dengan kotak meter ini memiliki fungsi sebagai tempat yang sengaja dibuat untuk menyimpan komponen-komponen multimeter  
  5. Polarity & Range Selector Switch atau saklar pemilih polaritas dengan komponen ini kita dapat memilih polaritas yang diinginkan baik AC mupun DC di bagian ini pula sobat bisa menentukan range yang akan diukur
  6. Zero Adjust Screw atau sekrup penunjuk kedudukan pada jarum penunjuk yang memiliki fungsi untuk mengatur dan menentukan kedudukan jarum penunjuk yang bisa kita atur dengan menggunakan obeng pipih sebagai alat bantu untuk mengubahnya.Pada multimeter digital pilihan ini tidak tersedia,karena otomatis
Dibawah ini adalah salah satu contoh bagaimana cara mengukur tegangan DC

Cara Mengukur tegangan Baterai atau Accu 
1.Perkirakan berapa besar tegangan yang hendak sobat ukur misalnya 12 volt.
2.Putar Range Selector Switch multimeter pada posisi diatas perkiraan yaitu DCV 50
3.Tempelkan colok merah multimeter kepada Kutub positif Baterai/Accu dan Kabel hitam multimeter kepada Kutub negatif baterai/accu.Ingat jangan sampai terbalik!
4.Jarum akan bergerak kekanan menunjuk angka tertentu,jika dalam multimeter angka dapat langsung terbaca.


Cara mengukur Tegangan Power suply/Adaptor.
1.Perkirakan berapa besar tegangan yang hendak sobat ukur misalnya 12 volt
2.Putar Range Selector Switch pada posisi diatas perkiraan yaitu DCV 50
3.Tempelkan colok merah multimeter kepada keluaran positif (Biasanya kabel merah) Colok hitam multimeter kepada keluaran negatif(Biasanya kabel hitam).
4.Jarum akan bergerak kekanan menunjuk angka tertentu,jika dalam multimeter angka dapat langsung terbaca.


Cara Mengukur Tegangan Dalam Rangkaian.
Cara Mengukur tegangan dalam rangkaian agak sedikit berbeda terutama jika rangkaian tersebut bagian power suplynya menyatu dengan bagian lainnya misalnya pada Televisi,Mini compo,Hi-fi sehingga memerlukan kemampuan dalam membaca jalur rangkaian namun apabila rangkaian power suplynya terpisah misalnya pada Amplifier akan lebih mudah mengukurnya karena biasanya dalam PCB nya terdapat keterangan terminal positif maupun negative atau Ground.Apabila tidak ada keterangan sama sekali patokannya adalah cari dulu jalur Groundnya biasanya jalurnya paling tebal dan selalu berhubungna dengan kutub negatif dari kondensator.Kemudian cari jalur positifnya cara termudah adalah mencari kondensator kutub positif yang ukurannya paling besar baik nilainya atau tegangan kerjanya(Working Voltage) biasanya dekat dengan dioda penyearah.Setelah keduanya ditemukan baru bisa diukur tegangannya.Caranya sebagai berikut:
1.Perkirakan berapa besar tegangan yang hendak sobat ukur misalnya 24 volt
2.Putar Range Selector Switch pada posisi diatas perkiraan yaitu DCV 50
3.Tempelkan colok merah multimeter kepada jalur positif dan Colok hitam multimeter kepada jalur Ground. 4.Jarum akan bergerak kekanan menunjuk angka tertentu.jika dalam multimeter angka dapat langsung terbaca.

Nah demikianlah artikel singkat tentang cara mengukur tegangan,sebelum melakukan pengukuran pastikan sobat paham prosedur keselamatan,semoga bisa bermanfaat

Monday, 29 September 2014

Tentang AKI Dan Permasalahanya

Istilah Aki atau lebih dikenal dengan nama ACCU berasal dari istilah asing " Accumuleren" yang berarti menyimpan dan mengumpulkan.Accu adalah alat yang dapat menyimpan energi listrik menjadi energi kimia.


Jenis - Jenis Aki

Aki Basah
Hingga saat ini aki yang populer digunakan adalah aki model basah yang berisi cairan asam sulfat (H2SO4). Ciri utamanya memiliki lubang dengan penutup yang berfungsi untuk menambah air aki saat ia kekurangan akibat penguapan saat terjadi reaksi kimia antara sel dan air aki. Sel-selnya menggunakan bahan timbal (Pb). Kelemahan aki jenis ini adalah pemilik harus rajin memeriksa ketinggian level air aki secara rutin. Cairannya bersifat sangat korosif. Uap air aki mengandung hydrogen yang cukup rentan terbakar dan meledak jika terkena percikan api. Memiliki sifat self-discharge paling besar dibanding aki lain sehingga harus dilakukan penyetruman ulang saat ia didiamkan terlalu lama.
Accu Hybrid
Pada dasarnya aki hybrid tak jauh berbeda dengan aki basah. Bedanya terdapat pada material komponen sel aki. Pada aki hybrid selnya menggunakan low-antimonial pada sel (+) dan kalsium pada sel (-). Aki jenis ini memiliki performa dan sifat self-discharge yang lebih baik dari aki basah konvensional.
Accu Calcium
Kedua selnya, baik (+) maupun (-) mengunakan material kalsium. Aki jenis ini memiliki kemampuan lebih baik dibanding aki hybrid. Tingkat penguapannya pun lebih kecil dibanding aki basah konvensional.
Accu Bebas Perawatan / Maintenance Free (MF)
Aki jenis ini dikemas dalam desain khusus yang mampu menekan tingkat penguapan air aki. Uap aki yang terbentuk akan mengalami kondensasi sehingga kembali menjadi air murni yang menjaga level air aki selalu pada kondisi ideal sehingga tak lagi diperlukan pengisian air aki. Aki jenis ini biasanya terbuat dari basis jenis aki hybrid maupun aki kalsium.
Accu Sealed (aki tertutup)
Aki jenis ini selnya terbuat dari bahan kalsium yang disekat oleh jaring berisi bahan elektrolit berbentuk gel/selai. Dikemas dalam wadah tertutup rapat. Aki jenis ini kerap dijuluki sebagai aki kering. Sifat elektrolitnya memiliki kecepatan penyimpanan listrik yang lebih baik. Karena sel terbuat dari bahan kalsium, aki ini memiliki kemampuan penyimpanan listrik yang jauh lebih baik seperti pada aki jenis calsium pada umumnya. Pasalnya ia memiliki self-discharge yang sangat kecil sehingga aki sealed ini masih mampu melakukan start saat didiamkan dalam waktu cukup lama. Kemasannya yang tertutup rapat membuat aki jenis ini bebas ditempatkan dengan berbagai posisi tanpa khawatir tumpah. Namun karena wadahnya tertutup rapat pula aki seperti ini tidak tahan pada temperatur tinggi sehingga dibutuhkan penyekat panas tambahan jika ia diletakkan di ruang mesin.

Mekanisme Kerja
Elektrode akumulator baik anode dan katode terbuat dari timbal berpori. Bagian utama akumulator, yaitu :
  1. Kutup positif (anode) terbuat dari timbal dioksida (PbO2)
  2. Kutub negatif (katode) terbuat dari timbal murni (Pb)
  3. Larutan elektrolit terbuat dari asam sulfat (H2SO4) dengan kepekatan sekitar 30%

Lempeng timbal dioksida dan timbal murni disusun saling bersisipan akan membentuk satu pasang sel akumulator yang saling berdekatan dan dipisahkan oleh bahan penyekat berupa isolator. Beda potensial yang dihasilkan setiap satu sel akumulator 2 volt sehingga pada akumulator 12 volt tersusun dari 6 pasang sel akkumulator yang disusun seri. Kemampuan akumulator dalam mengalirkan arus listrik disebut dengan kapasitas akumulator yang dinyatakan dengan satuan Ampere Hour (AH). 50 AH artinya akkumulator mampu mengalirkan arus listrik 1 ampere dan dapat bertahan selama 50 jam tanpa pengisian kembali. Dalam garis besarnya akkumulator memiliki cara atau prinsip kerja sebagai berikut :

PENGOSONGAN (DISCHARGING)
Pada saat akumulator digunakan, terjadi perubahan energi kimia menjadi energi listrik dan terjadi perubahan anode, katode dan elektrolitnya. Pada anode, secara perlahan terjadi perubahan yaitu timbal dioksida (PbO2) menjadi timbal sulfat (PbSO4). Begitu pula yang terjadi pada katode adalah secara perlahan-lahan timbal murni (Pb) menjadi timbal sulfat (PbSO4). Adapun pada larutan elektrolit terjadi perubahan, yaitu asam sulfat pekat menjadi encer, karena pada pengosongan akumulator terbentuk air (H2O). Reaksi kimia pada akkumulator yang dikosongkan (dipakai) adalah sebagai berikut :
  • Pada elektrolit : H2SO4  –>  2H+  +  SO4 2–
  • Pada anode : PbO2  +  2H+  +  2e  +  H2SO4  –>  PbSO4 + 2H2O
  • Pada katode : Pb + SO4 2  –>  PbSO4
Terbentuknya air pada reaksi kimia di atas menyebabkan kepekatan asam sulfat berkurang, sehingga mengurangi massa jenisnya dari kondisi normalnya  1,285 kg/dm3, turun menjadi sekitar 1,1 kg/dm3 dan ini mendekati massa jenis air yang 1 kg/dm3 . Jika hal itu terjadi, maka kedua kutub akan memiliki potensial sama dan arus listrik berhenti mengalir. Keadaan ini dikatakan akkumulator kosong (habis).

PENGISIAN (CHARGING)
Akkumulator yang telah habis (kosong) dapat diisi kembali, karena itulah akkumulator disebut juga dengan elemen sekunder. Untuk melakukan pengisian diperlukan sumber tenaga listrik arus searah lain yang memiliki beda potensial sedikit lebih besar. Misalnya akku 6 volt kosong harus disetrum dengan sumber arus yang tegangannya sedikit lebih besar dari 6 volt. Kutub positif sumber tegangan dihubungkan dengan kutub positif akumulator, dan kutub negatif sumber tegangan dihubungkan dengan kutub negatif akumulator. Dengan cara tersebut elektron-elektron pada akumulator dipaksa kembali ke elektrode akumulator semula, sehingga dapat membalik reaksi kimia pada kedua elektrodenya.
Proses pengisian dapat berjalan dengan baik apabila arus searah yang diberikan memiliki ripple yang cukup tinggi untuk mempermudah proses kimia (pelepasan elektron) dalam kepingan-kepingan elektroda. Selain itu, penggunaan arus pengisian yang relatif kecil dengan waktu pengisian lama dapat diperoleh hasil pengisian yang lebih baik dan memperpanjang umur pakai akkumulator. Besarnya arus pengisian dapat diatur dengan reostat. Pada saat pengisian terjadi penguapan asam sulfat, sehingga menambah kepekatan asam sulfat dan permukaan asam sulfat turun. Oleh sebab itu, pada akumulator perlu ditambahkan air murni (H2O) kembali. Reaksi kimia yang terjadi saat akkumulator diisi adalah :
  • Pada elektrolit :  H2SO4  –>  2H+  +  SO4 2–
  • Pada anode :  PbSO4  +  SO4 2–  +  2H2O  –>  PbO2 + 2H2SO4
  • Pada katode :  PbSO4  +  2H+  –>   Pb + H2SO4
Jadi pada saat pengisian akkumulator, pada prinsipnya mengubah kembali anode dan katode yang berupa timbal sulfat (PbSO4) menjadi timbal dioksida (PbO2) dan timbal murni (Pb), atau terjadi proses ” Tenaga listrik dari luar diubah menjadi tenaga kimia listrik di dalam akkumulator dan kemudian disimpan di dalamnya.”
Dalam pembuatan akkumulator ada beberapa hal yang harus diperhatikan pertama, bahan yang digunakan harus mudah menggabungkan diri secara atomik atau molekuler dengan zat-zat kimia lain atau dengan kata lain, yang mudah di-oxidir. Kedua, bahan tersebut harus mudah melepaskan lagi atom atau molekul oksigen yang telah menyatu dengannya, atau mudah di-reduksir. Ketiga yang tidak kalah penting, bahan yang dipergunakan harus mudah didapat di alam dan murah harganya. Pilihan akhirnya jatuh pada logam yang murah dan mudah didapat di alam yaitu timbal (PbO ) dan timbal oksida (PbO2). Dengan alasan-alasan itulah akkumulator (akku, aki, accu) dewasa ini sangat populer digunakan dalam berbagai keperluan.


Methode Charging ( Cara pengisian AKI/ACCU)

Pengisian arus dialirkan berlawanan dengan waktu pengeluaran isi yang berarti juga bahwa beban aktif dan elektrolit diubah supaya energi kimia bateari mencapai maksimum.
Terdapat beberapa metode dalam pengisian batearai :

  • Pengisian perawatan (maintenance charging) digunakan untuk mengimbangi kehilangan isi (self discharge), dilakukan dengan arus rendah sebesar 1/1000 dari kapasitas baterai. Ini biasa dilakukan pada baterai tak terpakai untuk melawan proses penyulfatan. Bila baterai memiliki kapasitas 45 Ah maka besarnya arus pengisian perawatan adalah 45 mA (miliAmpere).
  • Pengisian lambat (slow charging) adalah suatu pengisian yang lebih normal. Arus pengisian harus sebesar 1/10 dari kapasitas baterai. Bila baterai memiliki kapasitas 45 Ah maka besarnya arus pengisian lambat adalah 4,5 A. Waktu pengisian ini bergantung pada kapasitas baterai, keadaan baterai pada permulaan pengisian, dan besarnya arus pengisian. Pengisian harus sampai gasnya mulai menguap dan berat jenis elektrolit tidak bertambah walaupun pengisian terus dilakukan sampai 2 - 3 jam kemudian.
  • Pengisian cepat (fast charging) dilakukan pada arus yang besar yaitu mencapai 60 - 100 A pada waktu yang singkat kira-kira 1 jam dimana baterai akan terisi sebesar tiga per empatnya. Fungsi pengisian cepat adalah memberikan baterai suatu pengisian yang memungkinkannya dapat menstarter motor yang selajutnya generator memberikan pengisian ke baterai.
Pemicu Kerusak Aki

 I. Discharge / Under Charge :
Yaitu Kondisi kapasitas battery yang kurang, sebagai akibat ketidak seimbangan anatar pengeluaran arus dengan pengisian kembali.Penyebab battery discharge a.l. :
  1. Arus ampere pengisian pada charging system kendaraan kurang ,(tidak mencukupi) dari standar arus pengisian yang dibutuhkan battery
  2. Tidak seimbangnya kondisi antara penggunaan battery untuk starter dengan waktu hidup mesin (banyak starter).
  3. Penambahan aksesoris yang berlebihan (tidak sesuai dengan kapasitas battery yang terpasang pada kendaraan).
  4. Battery yang sudah terpasang pada kendaraan / dalam kondisi Wet charge, didiamkan dalam jangka waktu yang lama


II. Over Charge :
Yaitu kerusakan pada plate – plate dan separator battery, sebagai akibat kelebihan arus pengisian, yang menyebabkan plate dan separator battery sehingga tidak dapat menyimpanstroom. Penyebab battery over charge diantaranya :

  1. Arus ampere pengisian pada charging system kendaraan terlalu besar dari standar arus pengisian yang dibutuhkan battery.
  2. Pada saat penambahan elektrolite, banyak menggunakanaccu-zuur, sehingga elektrolite dalam bettery menjadi pekat.
  3. Pada waktu melakukan penambahan stroom diluart kendaraan (charge) ,menggunakan ampere pengisian yang besar dalam jangka waktu yang lama.


III. Sulfation :
Yaitu kerusakan pada plate – plate battery sebagai akibat battery terlalu lama didiamkan dalam kondisi kosong ( terlambat penyetruman), sehingga plate – plate battery tidak dapat kembali ke kondisi semula Penyebab battery sulfation diantranya:

  1. Kelalaian dalam penanganan, battery dibiarkan kosong tanpa adanya penyetruman kembali.
  2. Cairan elektrolite dibiarkan dalam kondisi kosong ( dibawah garis–lower level ), sehingga sebagian permukaan plate dan separator tidak terendam dalam cairan elektrolite yang dalam jangka waktu tertentuakan mengakibatkan plate teroksidasi.


Demikianah ulasan singkat tentang aki dan Permasalahnya,semoga artike singkat ini bisa memberi manfaat dan terima kasih telah berkunjung.